dampak polusi pada dunia pariwisata

pariwisata adadalah salah satu penyumbang devisa terbesar no 2 setelah minyak bumi, sehingga dunia pariwsata sangat berperan dalam pembangunan ekonomi bangsa dimana bila balam 1 hotel bintang 4 lah di katakan maka hotel terebut membutuhkan kurang dari 5000 orang pegawai sehingga usaha hotel tersebut dapat membantu perkembangan perekonomian masyarakat di daerah sekitar nyaa dam juga dapan membantu meringankan pemerintah dalam mengurangi pengangguran .

akan tetapi sekarang dunia pariwsara sudah aga turun karna di sebab kan nyaaa polusi udara maupun air nyaaa adapun sebagai contoh sebagai berikut:

  1. pencemaran Sampah Kiriman di Pantai Kuta dan Sekitarnya
20150109_083813

Pantai Kuta dan sekitarnya selalu penuh dengan sampah setiap akhir tahun sejak tahun 2012 hingga saat ini. Sampah-sampah itu pada umumnya adalah sampah kiriman akibat fenomena angin musim barat yang bertiup dari wilayah barat ke timur. Selama angin musim barat berembus, Pantai Kuta dan sekitarnya akan selalu menjadi tempat menumpuknya sampah kiriman dari laut dan muara sungai-sungai terdekat. Mengingat lokasinya berada di teluk, Pantai Kuta dan sekitarnya menjadi titik berkumpulnya sampah kiriman dari berbagai daerah di Pulau Bali dan Pulau Jawa (lokasi Pantai Kuta sebagaimana gambar di bawah ini).

Untitled

 Beberapa kondisi pencemaran sampah kiriman di Pantai Kuta dan sekitarnya sebagai berikut:

  1. Fenomena alam kiriman sampah ke Pantai Kuta mulai bulan Desember 2014 dan diperkirakan akan terus berlangsung hingga bulan April 2015;
  2. Total sampah sampai ahir Januari 2014  sebanyak ± 1700 ton, dengan rata-rata timbulan sampah ± 30 ton/hari;
  3. Pantai yang terkena dampak sampah kiriman sepanjang ± 16 km berada di 13 pantai yaitu Pantai Canggu, Seseh, Pererenan, Batu Belig, Petitenget, Seminyak, Legian, Kuta, Jerman, Kelan, Kedonganan, Jimbaran dan Dreamland;
  4. Sampah didominasi batang kayu dan bambu yang berukuran besar dan panjang serta sampah plastik rumah tangga

(sumber : hasil wawancara dengan Kepala DKP Kab. Badung, 2015)

Upaya yang sudah dilakukan oleh pemerintah Kabupaten Badung diantaranya:

–   pengambilan sampah dilakukan setiap harinya dengan menggunakan 4 wheel loader dan truk sampah dengan melibatkan sekitar 1000 personil yang terdiri dari pemda, masyarakat dan kalangan perhotelan;

–    Sejak tahun 2013, Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kabupaten Badung telah menyiapkan standar operasional dalam mengatasi sampah, yakni membentuk Unit Reaksi Cepat yang bekerja sama dengan desa adat Kuta.

Sampah kiriman ke Pantai Kuta dan sekitarnya merupakan fenomena alam yang pasti datang setiap tahunnya, untuk itu diperlukan penanganan yang proaktif. Hal ini harus dipikirkan tidak hanya oleh pemerintah kabupaten, tetapi juga oleh propinsi dan pusat. Semua pihak harus turut berpartisipasi termasuk pihak swasta yakni pengelola akomodasi pariwisata di Kuta. Langkah preventif atau pencegahan juga perlu dilakukan, misalnya dengan tidak membuang sampah ke sungai dan menjaga kebersihan sungai di masing-masing kabupaten. Hal ini semakin menegaskan bahwa persoalan lingkungan tidak hanya dibatasi oleh batas-batas administrasi.

2. Sampah dan Limbah, Momok Wisata Berkelanjutan di Pantai Sanur

Aditya Mardiastuti detikTravel Share 0 Tweet 0 Share 0 1 komentar Suasana Focus Group Discussion (FGD) bersama Yayasan Pembangunan Sanur di Bali (Aditya/detikTravel) Badung – Nama Pantai Sanur di Bali sudah populer di kalangan turis. Namun, sampah serta limbah masih jadi masalah utama untuk pengembangan wisata berkelanjutan di sana.

Kemenpar serius mengembangkan destinasi wisata berkelanjutan di kawasan Sanur, Bali. Lewat Focus Group Discussion (FGD) bersama Yayasan Pembangunan Sanur, sejumlah kendala dan masalah mulai dipetakan.

Sebagai salah satu destinasi wisata populer di Bali, Sanur menyuguhkan panorama pantai yang apik, suasana yang nyaman bagi turis dan juga aneka jenis permainan air seperti sea walker hingga snorkeling. Jumlah kunjungan turis dinilai stabil, dan rata-rata mengaku puas ketika berkunjung ke Sanur.

“Untuk Sanur yang paling kita rasakan di sini masalah lingkungan, kalau bicara tingkat loyalitas konsumen luar biasa di Sanur, masalah ketenagakerjaan penyerapan tenaga kerja lokal termasuk keterlibatan dalam bisnis itu luar biasa. Di Sanur sendiri itu masalah ada sampah, limbah dan penataan lingkungan. Kalau yang lainnya kepuasan wisatawan, apakah musiman atau tidak itu sudah tidak masalah,” ujar Sustainable Tourism Observatory (STO) dari Universitas Udayana, Agung Suryawan di Pantai Segara, Sanur, Denpasar, Bali, Jumat (15/2/2019).

Masyarakat Sanur sudah berinisiatif memilah sampah di rumahnya masing-masing. Sanur sendiri sudah punya tiga Tempat Pembuangan Sampah Sementara (TPS) yang dimanfaatkan warga untuk membuat pupuk kompos hingga bank sampah.

Suasana Forum Group Discussion (Aditya/detikTravel)

Hanya saja, saat ini yang menjadi masalah adalah penumpukan antrean truk sampah di Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPA) Sarbagita Suwung. Tak hanya itu, bau tidak sedap dari TPA itu bahkan juga tercium hingga ke Sanur.

“Kalau angin dari barat itu baunya tercium sampai di sini (Sanur). Antrean membuang sampah ke TPA juga panjang jadi menambah biaya (transport dan waktu tunggu),” ujar Bendahara Umum Yayasan Pembangunan Sanur, Susi Darmayanti.

Biro Sosial Lingkungan Yayasan Pembangunan Sanur, Wayan Parka (Aditya/detikTravel)

Tak hanya keluhan soal sampah maupun bau, pengelola Sanur juga mengaku kesulitan berhadapan dengan birokrasi. Salah satunya soal izin penggunaan mobil listrik yang minim polusi sebagai kendaraan wisata di Sanur.

“Kami sudah minta izin ke Dishub Provinsi tapi masih terkendala izin operasi, karena regulasi di Denpasar maupun nasional sepertinya belum ada. Kita minta izin Dishub mobil ini kita gunakan di wilayah Danau Tamblingan nggak bisa nyeberang by pass,” tutur Biro Sosial Lingkungan Yayasan Pembangunan Sanur, Wayan Parka.

Tenaga Ahli Menteri Bidang Pembangunan Pariwisata Berkelanjutan, Valerina Daniel (Aditya/detikTravel)

Menanggapi itu, Tenaga Ahli Menteri Bidang Pembangunan Pariwisata Berkelanjutan Valerina Daniel menuturkan hasil FGD ini bakal dia olah menjadi program kerja Maret 2019. Dalam waktu dekat ini, Kemenpar juga akan mengundang para bupati daerah STD, dan Monitoring Center for UNWTO Sustainable Tourism Observatories (MCSTO) untuk meneken MoU tentang wisata berkelanjutan ini.

“Setelah itu kita akan membuat rapat kerja dalam rangka untuk menentukan dari 9 isu utama dari UNWTO untuk diteliti kita akan mengutamakan yang mana dari kondisi MCSTO yang ada dan permasalahan krusial di Indonesia. Dari situ kita akan mengadakan juknis MCSTO, teknologinya, kemudian kita juga menyiapkan langkah konkret berupa self assestment buat masing-masing MCSTO sehingga tiap tiga bulan mereka bisa self assesment, sehingga pada bulan keenam kita melihat self assesment apakah masalah itu masih menjadi yang utama, setelah itu di akhir tahun kita akan membuat laporan komprehensif ke UNWTO,” urainya.

“Intinya kita berusaha mencoba jawab 9 persoalan UNWTO, waste management, limbah cair, kepuasan pengunjung, manajemen ekonomi lokal, kemudian renewable energy. Jadi permasalahan ini kita akan coba diskusikan bersama sehingga bisa ditentukan mana yang prioritas,” sambungnya.

Terkait temuan di Sanur, Kemenpar bakal mendorong koordinasi antara Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) dengan Dinas Pariwisata. Valerina menambahkan Kemenpar juga berusaha memenuhi rekomendasi UNWTO untuk menggunakan geo reference berupa teknologi digital.

“Dari situ kita bisa mengetahui sebenarnya sumber sampah dari mana, supaya kita tahu, metodologinya itu sekarang kita lagi rancang menggunakan metodologi yang sudah dilakukan Kemenpar. Tapi ini masih dalam proses, tapi kita berusaha membuat satu sistem UNWTO teknologi digital. Jadi bentuknya seperti apa ini masih tahap diskusi dan mudah-mudahan ke depannya bisa diimplementasi untuk membantu mengatasi (permasalahan) tadi,” ujar Valerina.

Dia berharap dengan pemetaan ini, Kemenpar bisa menyusun program-program yang sesuai dengan masalah di tiap daerah. “Jadi kita lagi mencoba menentukan isu utama teknologi mana yang tepat diaplikasikan di daerah tersebut,” cetusnya.

Acara FGD ini dihadiri pengurus Yayasan Pembangunan Sanur yaitu Putu Suanta sebagai sekretaris, Ketut Sudira sebagai Ketua III dan Ida Bagus Wisnu Diwangkara sebagai biro pariwisata.

3. Puncak Sampah di Pantai Kuta Awal 2018. Apa yang Bisa Dilakukan?

oleh Luh De Suriyani [Denpasar Bali] di 2 January 2018

Hasil survei menunjukkan mayoritas sampah di pesisir Bali adalah plastik dan sumbernya dari daratan, sampah manusia yang dibuang sembarangan. Foto: Luh De Suriyani/Mongabay Indonesia

Tahun baru lagi, tahun baru banyak resolusi. Resolusi tanpa aksi sama aja basa-basi. Tahun baru lagi politisi sibuk susun janji. Janji yang ditepati juga janji tuk mengibuli.

Penggalan lirik lagu “Tahun Baru Lagi” dari band indie Bali, Nosstress ini masih relevan dengan kondisi lingkungan di Bali. Mungkin juga di Indonesia.

Salah satunya ancaman sampah daratan bagi laut. Tahun baru mandi, berenang, berselancar, dan berjemur di pantai-pantai bersampah lagi di tahun baru 2018 ini. Terutama pesisir di Selat Bali.

Papan informasi yang dipasang pengelola pantai memberi permakluman jika ini adalah fenomena alam tahunan tiap Desember sampai Maret. Bukankah ini ulah manusia dan bisa dikurangi dampaknya?

Sepanjang pesisir Pantai Kuta, Legian, sampai Bali Barat, laut membawa beban berat ratusan ton sampah, terutama anorganik. Didominasi plastik kemasan, botol minuman, dan sampah manusia lainnya. Demikian juga pesisir Selatan sampai Timur Bali saat arah angin menuju daratan.

baca : Siaga Sampah Bali. Ada Apakah?

Dr I Gede Hendrawan Peneliti dari Centre of Remote Sensing and Ocean Sciences, Fakultas Kelautan dan Perikanan Universitas Udayana memberi prediksi puncak sampah bisa terjadi akhir Desember atau awal tahun 2018.

Ia dan timnya memantau pergerakan sampah dan jenis sampah yang mendarat ini sejak 2014, terutama di pantai-pantai berhadapan dengan Selat Bali. “Dari simulasi model menunjukkan potensi sampah yang berasal dari pesisir timur Banyuwangi dan Kabupaten Jembrana dan Tabanan akan tiba dalam waktu 1-2 bulan. Jika musim hujan terjadi akhir November atau awal Desember 2017 maka Kuta akan memanen sampah di akhir Desember sampai Januari,” paparnya.

Sementara untuk pesisir lain, misal jika sampah dari muara sungai-sungai di Bali Selatan seperti Teluk Benoa akan mendarat ke mana belum bisa disimpulkan karena pihak peneliti belum memodelkannya.

baca : Sampah Plastik Semakin Ancam Laut Indonesia, Seperti Apa?

Wisatawan surfing di tengah gulungan ombak penuh sampah saat angin Barat di Pantai Kuta sampai Seminyak, Bali. Sampah di pesisir pantai menjadi masalah bagi lingkungan dan pariwisata Bali. Foto: Luh De Suriyani/Mongabay Indonesia

Jika melihat gambaran pergerakan sampah di atas, bisa disimpulkan sampah siapa saja dari darat yang mencemari laut akan berdampak ke daratan lainnya. Namun sebelum terdampar kembali sudah menginfeksi dan meracuni isi laut. Misal menghambat pertumbuhan terumbu karang dan membunuh satwa laut dari racun serpihan sampah atau mikroplastik yang termakan.

Ketua Satgas Pantai Desa Adat Kuta I Wayan Sirna yang sedang bertugas saat ditemui pada 26 Desember lalu menyebut disiagakan 20 truk untuk mengangkut sampah yang bisa dikumpulkan. Lebih dari 1000 pedagang yang terdaftar di Pantai Kuta sepanjang 4 kilometer juga sudah diminta menyapu sampah tiap hari. Selain puluhan petugas kebersihan khusus.

Ekskavator terlihat mondar mandir di pantai mengeruk sampah-sampah yang baru terdampar agar pantai lebih cepat bersih. Maklum, jelang tahun Baru. Pantai Kuta masih menjadi salah satu lokasi tujuan wisatawan ke kawasan ini.

baca : Inilah Para Pahlawan Sampah Bali

Sampah yang sudah terdampar sehari sebelumnya dikumpulkan menjadi gundukan-gundukan kecil oleh pedagang tiap pagi dan sore di sepanjang pantai. Lalu truk pantai memindahkan ke timbunan besar, selanjutnya truk dinas kebersihan pemerintah mengangkut ke TPA Suwung.

“Banyak pengamat datang tapi belum ada solusi. Dulu pernah dicoba jaring, sepertinya mubazir tekanan arus kuat bisa cepat rusak,” ujar Sirna ketika ditanya solusi penanganan sampah ini. Ia hanya fokus pada pengurangan sampah terdampar.

Membandingkan sekitar 20 tahun lalu, pria yang sudah sejak remaja menghabiskan waktu di Pantai Kuta sebagai pedagang acung ini menyebut jika ada sampah terdampar ya organik. Misalnya kelapa tua dan kayu. Jadi dibiarkan saja sementara kayu diambil warga untuk kayu bakar. “Misal buat pamor untuk bahan bangunan,” Sirna mengingat masa lalu. Puluhan tahun lalu warga membakar batu karang untuk membuat bahan perekat membangun rumah.

Gede Hendrawan mengatakan jaring konvensional untuk menangkap sampah jika didesain khusus dengan karakter kekuatan arus dan gelombang selat Bali mungkin dapat dilakukan, tapi biayanya sangat besar. Menurutnya solusi jangka pendek di antaranya Kabupaten Badung yang kaya dari pajak industri pariwisata bisa mengalokasikan dananya membantu menyiapkan penangkap sampah (trash trap) di sungai-sungai kabupaten-kabupaten yang berpotensi masuk Selat Bali.

baca :  Indonesia Siapkan Dana Rp13,4 Triliun untuk Bersihkan Sampah Plastik di Laut

Ratusan orang mengenakan kaos Bali Tolak Reklamasi Teluk Benoa menyambut tahun baru dengan bersepeda dan memungut sampah di Pantai Kuta, dipimpin Jerinx, vokalis band Superman Is Dead. Foto: facebook Ary Astina/Mongabay Indonesia

Hasil survei timnya pada 2014 memperlihatkan sampah yang terdeposisi di pantai Kuta didominasi 75% sampah plastik, dengan konsentrasi rata-rata sampah sebesar 0,25/meter persegi. Saat itu hasil pemataan sampah di pantai Kuta berasal dari aktifitas di darat mencapai sekitar 52%, aktifitas laut sekitar 14%, dan aktifitas secara umum baik darat maupun laut sebesar 34%.

Dilanjutkan dengan riset pemodelan matematik untuk mengetahui pergerakan sampah yang ada di Selat Bali, dan mekanisme pergerakannya sampai terdeposisi di Pantai Kuta. Model matematik yang dikembangkan pada prinsipnya menghitung besarnya arus dan pola pergerakan arusnya yang digerakkan oleh pasang surut dan angin.

Dari pergerakan arus tersebut kemudian dilakukan pelacakan terhadap partikel yang mengapung di perairan Selat Bali. Dari hasil model, secara umum sampah yang terdeposisi di Pantai Kuta berasal dari Pulau Bali sendiri, seperti dari kabupaten Tabanan dan Jembrana. Juga disumbangkan dari pesisir pantai di Banyuwangi dan Samudra Hindia.

Waktu yang dibutuhkan sampah tersebut terdeposisi di pantai Kuta sekita 5-28 hari. Pada kondisi angin ekstrem akan mempercepat pergerakan sampah dari sumber ke Pantai Kuta. Jika dilihat dari hasil model, hampir 20-30% sampah yang mengapung di Selat Bali akan terdeposisi di Pantai Kuta.

baca : Terus Berulang Terjadi, Dari Mana Sampah di Pantai Kuta?

Sejumlah pedagang gotong royong menyapu sampah plastik di Pantai Kuta, Bali pada Selasa (03/01/2017). Sedikitnya perlu 3 kali menyapu tiap harinya karena sampah terus menerus terbawa arus. Foto Luh De Suriyani/Mongabay Indonesia

Dampak sampah laut

Tak hanya penikmat wisata air yang terganggu dengan sampah di laut. Juga pengelola taman nasional dan satwa di dalamnya. Misalnya Taman Nasional Bali Barat kini sibuk mengurus sampah yang terdampar di perairan kawasannya. Jika sebelumnya ancaman oleh pemburu kini penyampah.

Aksi pengumpulan sampah makin digiatkan di berbagai lokasi di dalam kawasan yang menjadi titik konsentrasi sampah anorganik. Dari data yang tercatat, pada 19 Februari sampai 29 Juni 2017 sampah anorganik terangkut sekitar 9,1 ton.

Dampak pada satwa laut langka juga terbukti. Sejumlah peneliti kelautan mengecek jumlah mikroplastik pesisir laut Bali dan NTT sejak akhir 2016 lalu. Tepatnya di sekitar perairan jalur migrasi Pari Manta yakni Nusa Penida dan Taman Nasional Pulau Komodo.

Mereka adalah Elitza Germanov, Andrea Marshall, I Gede Hedrawan, dan Neil Loneragan. Kolaborasi Marine Megafauna Foundation, Universitas Murdoch-Australia, dan Universitas Udayana-Bali. Mikroplastik ditemukan pada setiap pelaksanaan survei di kedua lokasi selama musim hujan (wet northwest monsoon season). Kategori mikroplastik adalah serpihan plastik di bawah 5 milimeter.

4.Ini Hasil Pemantauan Sampah Plastik di Nusa Penida Setelah Viral Video Penyelam Inggris

oleh Anton Muhajir [Nusa Penida]

di 12 March 2018

Tepat seminggu lalu, pada 3 Maret 2018, jagat dunia maya sempat heboh dengan unggahan video seorang penyelam asal Inggris, Richard Horner. Dalam video yang dia unggah ke YouTube maupun Facebook, Horner terlihat sedang menyelam di antara lautan sampah plastik.

Menurut Horner, lokasi penyelaman tersebut di Manta Point, salah satu lokasi favorit para penyelam di Nusa Penida, Bali. Merujuk pada namanya, di sinilah para penyelam bisa bertemu satwa laut endemik Nusa Penida, ikan pari manta (M. Birostris dan M. Alfredi) serta mola-mola (ocean sunfish). Namun, ketika menyelam Horner hanya menemukan satu ekor manta.

Sebaliknya, dia justru lebih banyak menemukan lautan sampah plastik. “Tas plastik, botol plastik, cangkir plastik, keranjang plastik, bungkus plastik, sedotan plastik. Plastik lagi. Plastik lagi. Banyak sekali plastik,” kata Horner dalam bahasa Inggris.

5.Sampah Bertebaran, Menjangan Sampai Makan Sampah Plastik

Kamis, 6 Agustus 2015 20:33

Sampah Bertebaran, Menjangan Sampai Makan Sampah Plastik

Tribun BaliSeorang warga menunjukkan lokasi Pos I Pulau Menjangan beberapa waktu lalu 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Sekretaris Daerah (Sekda) Buleleng, Dewa Ketut Puspaka merasa kesal ketika mengetahui Pulau Menjangan masih belum dikelola dengan baik, Kamis (6/8/2015).

Ia menilai, Pulau Menjangan sebagai destinasi wisata yang berpengaruh terhadap perkembangan pariwisata di Buleleng masih belum memiliki sarana prasarana yang menunjang aktivitas pariwisata.

Antara lain tidak adanya kamar mandi dan air bersih di dalam pulau tersebut.

Dermaga di Pos II yang sudah putus hingga tiga tahun tetapi tidak kunjung diperbaiki, hingga tidak adanya tempat untuk menampung sampah.

Selama ini pemandu wisata mensiasati dengan menghimbau kepada wisatawan agar tidak membuang sampah di dalam pulau, atau membawa pulang kembali sampah yang dibuang di dalam pulau. Namun, tidak sedikit wisatawan maupun pemedek yang masih belum memahami arti pentingnya menjaga kebersihan di dalam pulau tersebut.

“Banyak wisatawan yang berkunjung ke sana karena tertarik dengan panorama yang dipromosikan indah. Tetapi sesampainya di sana mereka tidak didukung infrastruktur yang memadai. Tidak adanya kamar mandi, tidak ada tempat penampungan sampah, sampai dermaga yang sudah patah bertahun-tahun juga dibiarkan, ini kan memprihatinkan,” ujarnya.

Bahkan, Menjangan yang hidup di dalam pulau tersebut tidak jarang terlihat memakan sampah plastik yang dibuang sembarangan oleh pengunjung.

Kondisi ini karena ketika musim kemarau, rerumputan dan tumbuhan-tumbuhan di dalam pulau mengering akibat tidak adanya cadangan air. Ia khawatir menjangan di dalam pulau akan punah. Padahal pulau ini dikenal dengan habitat menjangannya.

“Beberapa kali saya ke Pulau Menjangan, memang di sana tidak seindah seperti saya bayangkan sebelum ke sana. Satwa Menjangan banyak makan sampah yang dibuang pengunjung. Ini akan mengancam keberlangsungan hidup satwa ini, jangan sampai kita tidak bisa lihat Menjangan lagi di Pulau Menjangan,” katanya.(*)



Artikel ini telah tayang di tribun-bali.com dengan judul Sampah Bertebaran, Menjangan Sampai Makan Sampah Plastik, https://bali.tribunnews.com/2015/08/06/sampah-bertebaran-menjangan-sampai-makan-sampah-plastik.
Penulis: Lugas Wicaksono
Editor: gunawan

Leave a comment

Design a site like this with WordPress.com
Get started